Di utara pulau seram terdapat negeri bernama Sekenima. Nama ini mungkin terdengar asing, karena banyak orang setempat lebih mengenalnya sebagai Huaulu sebutan yang muncul pada masa kolonial Belanda.
Namun bagi masyarakat asli, Sekenima bukan sekadar nama, melainkan identitas yang mengandung filosofi mendalam.
Dalam pandangan kosmologi Maluku, terdapat dua kelompok besar yang dikenal sebagai Siwa dan Lima dan Sekenima hadir sebagai pintu masuk sekaligus penghubung di antara keduanya. Sekenima dipercaya masyarakat lokal sebagai pintu besi penghubung antara siwa dan lima.
Nama Huaulu sendiri adalah pemberian belanda dengan bahasa lokal yaitu Kata “Hua” berarti dua, sementara “Ulu” merujuk pada hulu atau sumber air (kepala air). Makna ini berkaitan langsung dengan keberadaan dua mata air yang dianggap sakral, yaitu Sapalewa dan Salawai. Kedua sumber air tersebut menjadi penopang kehidupan masyarakat sejak dahulu, sekaligus menjadi dasar penamaan Huaulu.

Potret Negeri Huaulu
Masyarakat Huaulu dikenal dengan tradisi berpindah tempat. Namun, perpindahan ini bukan karena keinginan semata, melainkan bagian dari aturan adat yang dijunjung tinggi.
Ketika sebuah wilayah mengalami peristiwa duka seperti kematian tragis atau kejadian yang dianggap membawa kesialan maka seluruh masyarakat akan meninggalkan tempat tersebut. Bagi mereka, lokasi yang telah tersentuh oleh peristiwa kelam tidak lagi pantas dihuni. Tradisi ini mencerminkan bentuk penghormatan terhadap kehidupan, alam, serta keberadaan leluhur.

Yohanis Yance Isai
Sepanjang perjalanan sejarahnya, masyarakat huaulu atau sekenima ini telah berpindah dari satu tempat ke tempat lain, hingga lebih dari 33 tempat pernah mereka huni. Dan kini , mereka menetap di wilayah Mutulam. Tempat ini menjadi rumah baru yang menandai fase kehidupan yang lebih stabil, tanpa meninggalkan nilai-nilai adat yang telah diwariskan turun-temurun.