Pelipus Untarolla, Penjaga Langkah Budaya Seka dari Pulau Marsela

Di tengah perkembangan zaman yang terus berubah, masih ada orang-orang yang dengan setia menjaga warisan budaya leluhur. Salah satunya adalah Pelipus Untarolla, seorang pelatih tari budaya Seka yang hingga kini terus mengajarkan generasi muda, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, untuk mencintai budaya mereka sendiri.

 

Perjalanan Pelipus mengenal tarian Seka dimulai sejak usia 21 tahun. Ketertarikannya bukan muncul begitu saja, melainkan dari cerita-cerita orang tua tentang budaya yang diwariskan turun-temurun, khususnya tentang Ehe Lawn, salah satu bentuk tarian budaya yang memiliki nilai sejarah dan makna mendalam bagi masyarakat.

 

Saat kecil, Pelipus sebenarnya sudah sering melihat tarian Seka. Namun saat itu, ia belum benar-benar tertarik. Semuanya berubah ketika orang tuanya mulai menceritakan kisah di balik tarian tersebut. Dari situlah rasa ingin tahunya tumbuh. Ia mulai belajar memahami gerakan, lagu, hingga makna budaya yang terkandung di dalamnya.

 

Lima tahun kemudian, tepat di usia 26 tahun, Pelipus mulai dipercaya menjadi pelatih. Awalnya ia hanya membantu orang tua mengajarkan adik-adik di kampung sebelum latihan utama dimulai. Dari kepercayaan kecil itu, lahirlah tanggung jawab besar yang terus ia pegang hingga sekarang.


 

Bagi Pelipus, melatih anak-anak bukan hal mudah. Ia mengaku tantangan terbesar justru datang dari peserta usia kecil, terutama anak-anak sekolah dasar yang masih sulit fokus saat latihan. Namun ia memilih tetap sabar. Baginya, kemarahan hanya akan membuat anak-anak menjauh dari budaya.

 

“ini adalah budaya yang diwariskan, dan saya merasa memiliki, pesan orang tua saya kepada saya budaya ini harus terus di wariskan”

“Harga diri katong, jati diri katong ada pada budaya ini” ungkap Pelipus

 Prinsip inilah yang membuat Pelipus terus bertahan. Hingga kini, ia telah melatih lebih dari 100 orang, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Yang membuatnya bahagia, banyak anak datang sendiri setiap kali mendengar bunyi tifa. Itu menjadi tanda bahwa kecintaan terhadap budaya masih hidup.


 

Melalui sanggar yang ia bina, Pelipus pernah membawa kelompoknya meraih Juara Umum tingkat Kabupaten. Namun mimpinya belum berhenti di situ. Ia ingin suatu hari membawa budaya Ehe Lawn tampil di tingkat provinsi hingga nasional.

 

Lebih dari sekadar prestasi, mimpi terbesar Felipus adalah memastikan seluruh generasi muda mengenal lagu-lagu dan gerakan warisan.

Karena bagi Pelipus, budaya yang tidak diajarkan perlahan akan hilang.

Dan selama masih ada orang seperti dirinya, langkah budaya itu akan terus hidup.