Ohoi Wulurat, sebuah Desa di Kecamatan Kei Besar, Maluku Tenggara, berdiri sebuah struktur batu monumental yang menjadi simbol identitas dan kebersamaan masyarakat setempat.
Struktur ini dikenal sebagai Lutur Kufak. Dalam bahasa Kei, "Lutur" berarti tembok batu, dan "Kufak" berarti berbentuk persegi empat dan menjadi pusat dari Desa Ohoi Wulurat.

Foto Udara Benteng Batu Lutur Kufak
Menurut Kepala Ohoi Wulurat; Deonisius Sarkol, sejarah terbentuknya kampung ini berawal dari kesepakatan bersama antara 4 marga. Sebelum Ohoi Wulurat berdiri, terdapat empat marga utama yang masing-masing memiliki kampung sendiri. Marga Moryaan bermukim di Ohoi Kau, Morwarin di Ohoi Karbau, Rahangiar di Ohoi Nean, dan Sarkol di Tutwe.

Kepala Ohoi Wulurat; Deonisius Sarkol
Suatu ketika, sebuah peristiwa mendorong keempat marga ini untuk bersatu. Para tetua dari masing-masing marga, yaitu dari Moryaan, Rahangiar, Sarkol, serta dari Morwarin, bersepakat untuk membangun sebuah tembok yang sekaligus menjadi pusat pemukiman baru.
Tujuan utama pembangunan Lutur Kufak bukanlah untuk berperang, melainkan untuk melindungi masyarakat yang tinggal di dalamnya.
Proses pembangunan lutur ini berlangsung selama tiga tahun enam bulan, atau dalam istilah Kei disebut tiga musim timur atau hartel. Setelah lutur selesai, seluruh anggota dari keempat marga resmi menetap di dalamnya, menandai berdirinya Ohoi Wulurat.

Tidak ada catatan tertulis mengenai kapan tepatnya Lutur Kufak mulai dibangun. Namun, berdasarkan cerita turun-temurun, benteng ini sudah berdiri sebelum kedatangan pemerintah kolonial Belanda di Kepulauan Kei.
Orang tua-tua di kampung tidak dapat memastikan tinggi asli lutur sebelum mengalami perubahan oleh Belanda. Namun, mereka mengingat bahwa di bagian dalam benteng terdapat tujuh tingkat undakan elevasi.
Tuan Tanah Ohoi Wulurat; Johanis Moryaan menuturkan, Lutur Kufak juga dilengkapi dengan dua jendela pengintai, memungkinkan penjaga memantau gerakan musuh dari kejauhan. Tak hanya itu, terdapat pintu rahasia, jalur tersembunyi yang digunakan dalam situasi darurat untuk keluar masuk tanpa terdeteksi.

Tuan Tanah Ohoi Wulurat; Johanis Moryaan
Di dalam area Lutur Ohoi Wulurat, terdapat dua Woma atau alun-alun, masing-masing memiliki fungsi dan makna yang sangat penting dalam tradisi adat. Yakni:
- Woma di Atas – El Walom
Woma di bagian atas, yang disebut El Walom, berfungsi sebagai pusat pertemuan adat dan tempat penerimaan tamu dari luar. Sebelum memasuki kampung, setiap tamu harus melalui prosesi adat, termasuk menginjak uang koin sebagai simbol penghormatan kepada leluhur.
- Woma di Bawah – Bayanganu
Sementara itu, Woma di bagian bawah, yang disebut Bayanganu, lebih sakral dan berhubungan erat dengan peperangan. Tempat ini dijaga oleh Marga Moryaan, yang memiliki tanggung jawab menjaga nyawa para pejuang yang pergi berperang.
Saat berperang, Mereka akan tinggal di Bayanganu untuk berdoa menjaga nyawa dan keselamatan pejuang. Setelah perang, upacara penyembelihan ayam jantan berbulu merah sebagai tumbal dilakukan untuk mengucapkan syukur atas keselamatan para pejuang yang kembali.

Di depan Lutur Kufak terdapat 2 buah makam, yaitu makam orang tua tua yang membangun lutur. Di sana, batu-batu disusun untuk membentuk makam yang menjadi simbol penghormatan kepada para leluhur. makam yang berada di dekat kali yaitu makam untuk satu orang disebut "hot", dan makam di depan pintu Lutur yang digunakan untuk memakamkan lebih dari satu orang, yang disebut "iksel".
Hari ini, Lutur Kufak bukan hanya menjadi saksi bisu perjalanan panjang sejarah Ohoi Wulurat, tetapi juga menjadi simbol identitas budaya dan kebersamaan masyarakatnya. Struktur ini adalah bukti nyata kejayaan arsitektur nusantara yang tetap berdiri kokoh di tengah perubahan zaman.